PEMUDA MUSLIMIN INDONESIA

The Indonesian Muslims Youth Organization

BIOGRAFI H.O.S TJOKROAMINOTO

Posted by Heru Tjokro pada Desember 17, 2011

Kehidupan Pribadi dan Keluarganya

Dalam sebuah proses kehidupan seseorang, sebelum ia mencapai suatu tingkat kematangannya, baik itu berpikir atau berperilaku, maupun peranannya didalam masyarakat sebagai pedagang, ulama, atau politikus tentunya ia dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya baik itu menyangkut kehidupan masa kecilnya maupun latar belakang kehidupan keluarganya. Besar atau kecil, pengaruh dari variabel yang seperti itu pasti ada.

Demikian pula halnya dengan H.O.S Tjokroaminoto, seorang pahlawan nasional yang dalam perjalanan hidupnya telah meraih respek dan apresiasi dari berbagai golongan terutama golongan Islam Nasionalis, dimana karakter dan frame berfikirnya amat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan keluarga dan kehidupan masa kecilnya. Maka, merupakan sesuatu yang layak untuk mengulas dan me-review kembali biografinya sebelum memahami pemikirannya secara lebih mendalam.

Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto, dilahirkan di Bakur, sebuah desa yang sunyi pada tanggal 16 Agustus 1982 bertepatan dengan tahun meletusnya gunung Krakatau di Banten. Peristiwa ini sering dikiaskan oleh orang Jawa bahwa gunung meletus itu akan banyak menimbulkan perubahan terhadap alam disekelilingnya. Peristiwa ini pula yang kelak dikaitkan dengan meledaknya tuntutan H.O.S Tjokroaminoto terhadap pemerintah kolonial Belanda ketika iamenjadi pemimpin Sarekat Islam[1].

Ia terlahir dengan nama kecil Oemar Said. Sesudah menunaikan ibadah haji ia meninggalkan gelar keningratannya dan lebih suka memperkenalkan diri dengan nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal H.O.STjokroaminoto. Gelar ’Raden Mas’ baginya adalah merupakan hak yang dapat dipergunakannya, sebagaimana ningrat-ningrat lainnya, sebab dalam dirinya mengalir darah ningrat, bangsawan dari Surakarta, cucu Susuhunan. Demikian pula halnya dengan gelar ’haji’ merupakan lambang dari kealiman, ketaatan seseorang dalam menjalankan ajaran-ajaran agama Islam, bagi Tjokroaminoto bukanlah merupakan sesuatu yang asing karena dirinya adalah keturunan kyai ternama yaitu Kyai Bagoes Kesan Besari. Seorang ulama yang memiliki pondok pesantren di Desa Tegal Sari, Kabupaten Ponorogo, Karesidenan Madiun, JawaTimur yang kemudian memperistri seorang putri dari Susuhunan II. Dengan perkawinannya itu, dia menjadi keluarga Keraton Surakarta[2].

Dari perkawinannya dengan putri Susuhunan tersebut Kyai Bagoes Kesan Besari dikaruniai seorang putra, yaitu Raden Mas Adipati Tjokronegoro. Dalam menjalani kehidupannya, Tjokronegoro tidak mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang kyai termasyhur atau menjadi pemimpin pondok pesantren. Tjokronegoro menerjuni pekerjaan di bidang kepamongprajaan sebagai pegawai pemerintah. Selama menjalani kariernya itu, Tjokronegoro pernah menduduki jabatan-jabatan penting diantaranya sebagai bupati di Ponorogo. Oleh karena jasanya pada negeri, ia dianugrahi bintang jasa  Ridder der Nederlansche Leeuw

Tjokronegoro kemudian dianugrahi seorang putra bernama Raden Mas Tjokroamiseno. Tjokroamiseno mengikuti jejak ayahnya dengan menekuni pekerjaan sebagai pegawai pamong praja pula. Tjokroamiseno juga pernah menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan, antara lain sebagai wedana diKewedanan Kletjo, Madiun. Raden Mas Tjokroamiseno inilah ayahTjokroaminoto[3]. Beliau mempunyai dua belas orang anak, berturut-turut;2.

  1.  Raden Mas  Oemar Djaman Tjokroprawiro, seorang pensiunan Wedana;
  2. Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto;
  3. Raden Ayu Tjokrodisoerjo, seorang istri almarhum mantan BupatiPurwokerto
  4. Raden Mas Poerwadi Tjokrosoedirjo, seorang bupati yang diperbantukankepada Residen Bojonegoro;
  5. Raden Mas Oemar Sabib Tjokrosoeprodjo, seorang pensiunan Wedanayang kemudian masuk PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) dan Masyumiyang kemudian meninggal di Madiun di zaman yang terkenal denganistilah ’Madiun Affair
  6. Raden Ajeng Adiati;
  7. Raden Ayu Mamowinoto, seorang istri pensiunan pegawai tinggi;
  8. Raden Mas Abikoesno Tjokrosoejoso, seorang arsitek terkenal yang jugapolitikus ulung yang pernah menjadi ketua PSII dan sempat menjabatsebagai menteri di Kabinet Republik Indonesia;
  9. Raden Ajeng Istingatin;
  10. Raden Mas Poewoto;11.
  11. Raden Adjeng Istidjah Tjokrosoedarmo seorang pegawai tinggi kehutanan;
  12. Raden Aju Istirah Mohammad Soebari, seorang pegawai tinggiKementrian Perhubungan[4].

Tjokroaminoto adalah seorang anak yang nakal dan pemberani. Karena kenakalan dan keberaniannya pulalah maka semasa di bangku sekolah ia sering dikeluarkan dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain. Walaupun demikian, karena kecerdasan otaknya, beliau dapat juga masuk ke sekolah OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Magelang dan pada tahun 1902 ia berhasil menyelesaikan studinya disana. Tidak begitu mengherankan sebenarnya beliau dapat masuk ke sekolah OSVIA tersebut, karena sudah menjadi tradisi anak-anak priyayi B.B. (Binnenland Bestuur disekolahkan oleh orangtuanya di Sekolah Ambtenar. Tentu saja dengan harapan dapat menjadi seorang pejabat dalam dunia priyayi. Sebagai seorang anak priyayi, Tjokroaminoto tentu saja dijodohkan olehorangtuanya dengan anak priyayi pula yaitu Raden Ajeng Soeharsikin, puteri seorang patih wakil bupati Ponorogo yang bernama Raden Mas Mangoensomo.Raden Ajeng Soeharsikin, yang setelah menikah menjadi Raden Ayu Tjokroaminoto, dikenal sebagai seorang wanita yang sangat halus budi pekertinya, baik perangainya, besar sifat pengampunannya dan cekatan. Walaupun tidak tinggi pendidikan sekolahnya, namun ia sangat menyukai pengajaran dan pengajian agama. Menurut asal-usulnya, ia keturunan Panembahan Senopati dan Ki Ageng Mangir di Madiun. Keteguhan dan kecintaan Soeharsikin kepada suaminya dibuktikan sejak awal masa pernikahan yang ketika itu dirinya dipaksa untuk memilih antara berpisah dengan orang tuanya atau dengan Tjokroaminoto. Hal ini terjadi ketika Tjokroaminoto berselisih dengan mertuanya. Perselisihan ini bermula dari perbedaan pandangan di antara keduanya. Tjokroaminoto tidak berhasrat menjadi seorang birokrat sedangkan mertuanya menginginkan tjokroaminoto menjadi birokrat sebab mertuanya masih bersifat kolot dan cenderung elitis. Pada waktuitu, Tjokroaminoto sudah masuk dunia BB, dunia kaum priyayi. Selama tiga tahun ia menjadi juru tulis patih di Ngawi. Perbedaan antara mertua dan menantu ini semakin hari semakin tajam. Sadar akan kenyataan yang dihadapinya, Tjokroaminoto pun mengambil tindakan nekat. Dia meninggalkan rumah kediaman mertuanya tersebut walaupun istrinya sedang mengandung anak pertamanya. Tindakan nekat Tjokroaminoto ini menimbulkan kemarahan bahkan kebencian mertuanya. Mangoensoemo memaksa anaknya untuk bercerai dengan Tjokroaminoto sebab kepergiannya telah mencoreng martabat dan kehormatan keluarganya. Dihadapkan dengan situasi sulit ini, Soeharsikin secara tegas tetap memilih suaminya, Tjokroaminoto. Jawaban Soeharsikin itu membuat kedua orang tuanya tertegun dan tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika Soeharsikin telah melahirkan anak sulungnya, ia bersama anaknya meninggalkan rumah untuk menyusul Tjokroaminoto. Namun, ia berhasil ditemukan oleh pesuruh ayahnya yang menyusulnya.

Dalam pengembaraannya, Tjokroaminoto sampai di kota Semarang.Waktu itu, tahun 1905, beliau sudah meninggalkan pekerjaannya sebagai  juru tulis patih di Ngawi. Untuk menyambung hidupnya, ia tidak segan-segan menjadi kuli pelabuhan disana. Malah, pengalaman yang tak terlupakan ini mendorongnya untuk memperhatikan kehidupan kaum buruh baik di perkebunan, kereta api, pengadilan, pelabuhan dan sebagainya ketika ia nantinya berkecimpung didunia pergerakan. Dia-lah yang mempelopori berdirinya ’sarekat sekerja’ yang bertujuan mengangkat harkat kaum buruh[5].

Merasa sulit berkembang di kota Semarang, ia kemudian memutuskan pindah ke Surabaya. Di kota Surabaya ini ia bekerja pada sebuah firma yang bernama Kooy & Co. Disamping bekerja beliau juga tidak lupa meluangkan waktu untuk menambah ilmu pengetahuan. Pada tahun 1907-1910, dia mengikuti pendidikan di sekolah B.A.S ( Burgerlijke Avond School ).

Setelah menamatkan sekolahnya di B.A.S, agaknya Tjokroaminoto sudah tidak tertarik lagi untuk meneruskan pekerjaannya di perusahaan dagang tersebut. Kemudian ia berhenti dan bekerja sebagai leerling machinist selama satu tahun lamanya yaitu dari tahun 1911 sampai 1912. Kemudian ia pindah bekerja lagi kesebuah pabrik gula, Rogojampi Surabaya di dekat kota Surabaya sebagai seorang chemiker 

Diantara banyak pekerjaan yang dilakoninya, pekerjaan sebagai jurnalistik lah yang paling disukainya. Beliau mengembangkan bakatnya dalam bidang itu dengan memasukkan tulisan-tulisannya dalam berbagai surat kabar pada masa itu serta pernah menjadi pembantu pada sebuah surat kabar di kota Surabaya, yaitu Suara Surabaya. Bakatnya ini semakin tampak jelas semasa ia menjadi pemimpin Sarekat Islam dan PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) dimana ia mampu menerbitkan beberapa surat kabar harian dan mingguan serta majalah, yaitu surat kabar Oetoesan Hindia, surat kabar Fajar Asia, dan majalah Al-Jihad. Pada semua penerbitan itu ia selalu menjadi pemimpin redaksi. Ia memang menyadari fungsi surat kabar dan majalah sebagai salah satu alat perjuangan[6].

Akhirnya, setelah cukup lama merantau, Tjokroaminoto memutuskan menetap di Surabaya dan membawa serta istri dan anak-anaknya yaitu Siti Oetari, Oetarjo alias Anwar, Harsono alias Moestafa Kamil, Siti Islamijah, dan Soejoet Ahmad. Walaupun dalam suasana sederhana, keluarga ini sangat harmonis dan berbahagia. Soeharsikin memberikan dukungan moral yang sangat besar kepada suaminya. Jika Tjokroaminoto bepergian, istri yang sederhana dan setia ini mengiringi kepergian suaminya dengan Sholat tahajud, puasa dan berdoa untuk suaminya. Banyak orang mengakui bahwa ketinggian derajat yang diperoleh Tjokroaminto sebagian besar berkat bantuan istrinya.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Soeharsikin membuka rumahnyauntuk indekos para pelajar di Surabaya. Pelajar yang mondok di rumahTjokroaminoto sekitar 20 orang. Kebanyakan dari mereka bersekolah di M.U.L.O ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs ), atau H.B.S ( Hollands Binnenlands School). Di antara siswa yang mondok tersebut adalah Soekarno, Kartosoewiryo, Sampoerno, dan Abikoesno, Alimin dan Moesso. Mereka tidak hanya makan dantidur di rumah Tjokroaminoto, tetapi juga berdiskusi baik dengan sesama temanmaupun dengan Tjokroaminoto. Sehingga rumah Tjokroaminoto adalah ibarat kancah yang terus menerus menggembleng dan membangun ideologi kerakyatan,demokrasi, sosialisme, dan anti imperialisme.

Dalam mendidik anak-anaknya maupun mengatur para pelajar yang indekos, Soeharsikin dan Tjokroaminoto sangat disiplin meskipun tetap akrab. Anak-anaknya diberi pendidikan dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya pendidikan duniawi tetapi juga pendidikan agama sangat diperhatikannya seperti mendatangkan guru untuk mengajar membaca Al-Qur’an ke rumahnya. Sedangkan disiplin yang diterapkan pada pelajar adalah seperti yang digambarkan Soekarno : ”Bu Tjokro sendiri yang mengumpulkan uang makan kami setiap minggu. Dia membuat peraturan seperti makan malam jam sembilan dan yang terlambat tidak akan dapat makan, anak sekolah sudah harus ada di kamarnya jam10 malam, anak sekolah harus bangun jam 4 pagi untuk belajar, dan main-main dengan anak gadis dilarang.[7].”

Pada usia 35 tahun, Tjokroaminoto mencapai puncak karirnya sebagai pemimpin Sarekat Islam selama beberapa periode. Tetapi semua gerak langkahnya tidak akan berhasil, jika tidak mendapat dukungan dari istri tercintanya. Dengan ketaatan seorang istri pejuang yang juga ikut membanting tulang mencari nafkah dengan tiada rasa jerih payah. Hidup sang istri yang didorong oleh hati ikhlas dan jujur itu, akhirnya merupakan faktor yang terpenting pula, sehingga Tjokroaminoto menjadi manusia besar di Indonesia yang amat disegani oleh kawan maupun lawannya.

Tetapi tidaklah lama Raden Ayu Soeharsikin dapat menyumbangkandarma baktinya kepada cita-cita suaminya, pada tahun 1921, beliau akhirya berpulang ke Rahmatullah meninggalkan suami dan kelima anaknya. Kematianbeliau disebabkan sakit tipus dan sakit perut. Hal ini bermula dari anak bungsubeliau, Soejoet Tjokroaminoto, terkena tipus. Soeharsikin yang menjaga anaknyaselama berbulan-bulan malah tertular penyakit anaknya tersebut dan akhirnyameninggal dunia. Almarhumah Soeharsikin kemudian dimakamkan di Botoputih,Surabaya[8].

Keluarga Tjokroaminoto amat terpukul dengan kepergian beliau. Merekalarut dalam kesedihan yang mendalam. Terutama bagi Tjokroaminoto peristiwaini merupakan pukulan yang amat berat. Ia tidak hanya kehilangan sosok seorangistri, tetapi juga kehilangan rekan seperjuangannya yang paling mengerti dirinya.Ketika semua orang berpaling dari dirinya, Soeharsikinlah satu-satunya orangyang masih setia.

Demikianlah kedukaan itu berlangsung beberapa lamanya. Namun betapapun kedukaan itu melanda dirinya, Tjokroaminoto tetap pada prinsip yangdipegangnya, berjuang untuk pembebasan bangsanya dari belenggu penjajahan.Untuk itu ia tidak pernah berhenti sampai pada akhir hayatnya[9].

Terjun ke Dunia Pergerakan Sebagai Pemimpin Sarekat Islam (SI)

Di Surabaya ia mulai aktif berorganisasi dan menjadi ketua perkumpulanPanti Harsoyo sebelum masuk Sarekat Islam (selanjutnya disebut SI) yang beradadibawah pimpinan H. Samanhoedi. Melalui H. Hasan Ali Surati, seorang saudagarkaya dari India yang menjadi ketua Perkumpulan Manikem, Tjokroaminotodiperkenalkan dengan empat pengurus SI yang sedang menjajaki pembukaan cabang disana. Sejak itulah Tjokroaminoto menunjukkan ketertarikannya danresmi menjadi anggota SI untuk kemudian menjadi ketua cabang di Surabaya.Oleh Tjokroaminoto, SI menjadi organisasi pergerakan pertama yang mampumengadakan mobilisasi massa dalam sebuah vergadering (rapat terbuka) yangdiadakan pada 26 Januari 1913 di Surabaya. Rapat terbuka tersebut dihadiri 12 afdeling

(cabang) dari 15 afdeling yang ada dan berhasil menyedot atensi massasebanyak 80.000 orang. Namun, menurut Schippers 64.000 peserta rapat diSurabaya ini berasal dari Surakarta. Selanjutnya, pada kongres pertama yangdiadakan di Surakarta pada 23 Maret 1913 yang diikuti oleh 48 afdelingTjokroaminoto ditunjuk sebagai wakil ketua SI dan redaktur pelaksana OetoesanHindia[10].

Pada Kongres Kedua SI yang diadakan di Yogyakarta, April 1914,merupakan momen yang sangat bersejarah bagi Tjokroaminoto, SI, dan bagirakyat Indonesia saat itu dimana Tjokroaminoto menjadi pemimpin tertinggi SImenggantikan H. Samanhoedi. Kongres kedua tersebut dihadiri 147 delegasi yangmewakili 440.000 anggota. Pada pembukaan kongres tersebut permintaanSamanhoedi agar tidak ada perubahan kepengurusan ditolak oleh peserta kongres.Mereka menginginkan Samanhoedi untuk menyerahkan kepengurusan kepadagenerasi muda yang lebih pandai dan memiliki kapasitas. Untuk meredakansuasana dan memberikan apresiasi kepada Samanhoedi Hasan Djajadiningratmengusulkan agar Samanhoedi ditetapkan sebagai Ketua Kehormatan CSI ( Central Sarekat Islam ), sebuah posisi tanpa kekuasaan[11].

Tjokroaminoto yang telah mengonsolidasikan kekuatannya diangkatsebagai ketua. Di Jawa Tengah misalnya, Tjokroaminoto yang sebelumnya wakilketua SI mulai menandingi Samanhoedi dan turun ke cabang-cabang. Sementaradi Jawa Timur, SI jelas berada di bawah kendali Tjokroaminoto. Ia orang yangpaling berpengaruh di Surabaya. Ia mengontrol Oetoesan Hindia dan menjadi’rajanya’

Vergadering . Pada Agustus Tjokroaminoto semakin kuat menancapkanpengaruhnya dengan mengalahkan Hasan Ali Soerati, orang yang mendirikanSetia Oesaha dan toko-tokonya, dan mengambil alih jabatan Soerati sebagaidirektur Setia Oesaha. Untuk memperluas pengaruh SI di bawah kendalinya, iamengumpulkan kawan-kawannya dan mendistribusikan jabatan pada mereka.Rumah Tjokroaminoto sendiri secara  de facto menjadi kantor SI Surabaya dankemudian menjadi kantornya CSI[12].

Selain itu kepiawaian Tjokroaminoto sebagai negosiator ulung tidak perludiragukan lagi. Melalui lobi-lobinya kepada pemerintah Belanda, SI berhasilmemperoleh status hukum dan mengubah

afdeling-afdeling

menjadi SI lokal.Selain itu, SI juga berhasil mendapat ijin untuk membentuk kepengurusan pusatyang kemudian dinamai Central Sarekat Islam (CSI). Sampai Kongres keduasudah 60 afdeling

yang berhasil diubah menjadi SI lokal dan nantinya terusbertambah. Maka, amat wajar pengaruh Tjokroaminoto semakin besar dan banyak cabang-cabang yang meliriknya untuk menjadi suksesor Samanhoedi[13].

Di tangan Tjokroaminoto-lah SI mengubah konsep pergerakannya daripergerakan di bidang ekonomi menjadi organisasi pergerakan nasional yang berorientasi sosial politik dan kepemimpinannya beralih dari kelompok borjuispribumi ke kaum intelektual yang terdidik secara Barat. Bersama Agus Salim danAbdul Moeis, Tjokroaminoto saling bahu membahu membesarkan Sarekat Islamhingga menjadi organisasi pergerakan pertama yang ’benar-benar’ berskalanasional yang mampu menarik anggota sebanyak 2,5 juta orang. Hal ini dapatdilihat dari latar belakang daerah ketiga tokoh tersebut yang berbeda-beda.Tjokroaminoto merupakan keturunan ningrat Jawa, sementara Agus Salim adalahketurunan santri bangsawan di Padang, dan Abdul Moeis juga berasal dariketurunan bangsawan di Padang namun dibesarkan di Palembang. Ketiganyamenjadi ’Tiga Serangkai’ pejuang muslim yang amat disegani[14].

Bersama Abdul Moeis, Tjokroaminoto duduk sebagai wakil dari SarekatIslam di Volksraad  atau ’Dewan Rakyat’. Volksraad  sendiri dibentuk setelahadanya tuntutan dari SI untuk mengadakan sebuah parlemen. Namun lembaga inihanyalah bagian dari akal-akalan pemerintah kolonial untuk sekadar formalitasdalam memenuhi program Politik Etis yang saat itu sedang digiatkan. Karenapada saat itu jumlah wakil rakyat pribumi lebih sedikit dari pihak penjajah danbangsa Timur Asing yaitu hanya sebanyak 25 orang sementara wakil dari Belandasebanyak 30 orang dan dari Timur Asing sebanyak 5 orang. SehinggaTjokroaminoto dan Abdul Moeis pada waktu itu memposisikan diri merekasebagai oposisi[15].

Sedangkan khusus Salim, dia-lah yang memberikan muatanlebih nilai-nilai Islam atau ideologisasi Islam pada SI. Islam-lah yang seharusnya  menjadi nilai dan bukan konsep Ratu Adil seperti yang sempat disematkan kepadaTjokroaminoto yang menurutnya berbau animis, mistik dan tidak rasional[16].

Pada awal kepemimpinannya di SI, Tjokroaminoto cenderung masihbersikap kooperatif dan lunak terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hal ini dapatdilihat dalam pidato-pidatonya pada Kongres Nasional Pertama SI, tanggal 17-24Juni di Bandung. Dalam pidatonya mengenai  Zelf Bestuur

(pemerintahan sendiri)dan Dewan Rakyat tersebut Tjokroaminoto dianggap belumlah terlalu radikal. Iamasih merupakan ’satria di bawah perlindungan pemerintah’. Nadanya masihberbau seperti yang sering diucapkan kaum etisi. Di pikirannya, Tjokroaminotobelum melihat  Zelf Bestuur  seradikal kemerdekaan, melainkan kebebasan untuk memerintah dan mengurus negerinya sendiri seperti halnya pemerintahan serikatyang tetap bernaung kepada negeri induknya yaitu Belanda[17].  Hal ini dapat dilihatdari kata-katanya ”..bersama-sama pemerintah dan menyokong pemerintahmenuju arah yang betul. Tujuan kita adalah mempersatukan Hindia denganNederland, dan untuk menjadi rakyat ’Negara Hindia’ yang berpemerintahansendiri.”

Namun, pernyataannya tersebut juga merupakan sebuah taktik untuk mengamankan penilaian pemerintah pada SI, sambil memberikan keyakinan padamasyarakat bahwa pribumi bisa memerintah dirinya sendiri. Apa yang dinyatakanTjokroaminoto jelas sangat menggembirakan kaum liberal di Belanda. Di Hindia,politik asosiasi yang menyatukan negeri Belanda dan Hindia dalam satu ikatanyang lebih sederajat telah berkembang. Mungkin di antara perkumpulan-perkumpulan lain di Hindia, perkumpulan Theosofi-lah yang paling jauh  mengembangkannya, yang memandang persaudaraan antar manusia yang meliputisemua kepercayaan dan ras[18].

Sikap radikal Tjokroaminoto sendiri tumbuh seiring dengan semakinradikalnya kaum pergerakan pada saat itu. Ada dua hal yang memicu tumbuhnyakeradikalan dalam diri Tjokroaminoto.

Pertama,  penangkapan terhadap dirinyadengan tuduhan keterlibatan dalam kasus SI Seksi B dan peristiwa Garut tahun1919. SI Seksi B adalah unit dari Sarekat Islam yang bersifat revolusioner denganorientasinya yang terlihat kejam yaitu membunuh semua orang Eropa dan Cina,dan dengan cara ini mengambil alih pemerintahan. Anggota-anggota dari SI SeksiB inilah yang diduga menimbulkan kerusuhan dalam peristiwa Garut.Tjokroaminoto dianggap telah memberikan persetujuan secara diam-diamterhadap organisasi tersebut namun tidak secara aktif mendorongnya[19].

58

Walaupunsebenarnya ada indikasi bahwa kerusuhan tersebut merupakan rekayasa yangsebenarnya dibuat oleh residen, kontrolir, bupati, wedana, camat, serta polisi yangmasih mempertahankan Tanam Paksa untuk Jawa Barat. Kerusuhan ini sendiridipicu oleh perintah residen agar menembak Haji Hasan. Tjokroaminoto pundipermalukan dengan penahanan selama sembilan bulan dan kemudiandibebaskan karena tidak ada bukti-bukti yang kuat. Bahkan pers Belanda dananggota Volkskraad yang radikal pun berpendapat bahwa Tjokroaminoto samasekali tidak terlibat dalam gerakan SI Seksi B[20]. Akibat dari penahanan iniTjokroaminoto merasa tidak perlu untuk melanjutkan sikap politiknya yangkooperatifnya kepada pemerintah kolonial.

Kedua,pasca dibebaskan pada bulan April, Tjokroaminoto mendapati SI sedang berada di ambang perpecahan. Hal initidak lain merupakan ekses dari adanya konflik dengan kubu komunis yangmenyusup ke dalam SI hingga memunculkan dua faksi yaitu SI Putih yangdiwakili oleh Salim dan SI Merah yang dipunggawai oleh Semaoen.Tjokroaminoto yang awalnya bersikap lebih toleran terhadap orang-orangkomunis pada akhirnya memilih untuk bersikap lebih tegas dari sebelumnya.

 Terlibat Konflik dengan Murid-Muridnya

Sebagai pemimpin SI kala itu, rumahnya sering disinggahi para pemudadan kebetulan rumahnya menjadi tempat kost bagi pelajar yang sedangmenyelesaikan studinya di Surabaya. Ia banyak memberikan kursus-kursus.Diantara murid-muridnya adalah Soekarno, S.M. Kartosoewirjo, AbikoesnoTjokrosoejoso, Hamka, Alimin, Moesso dan banyak lainnya.

Dalam setiap kesempatan Tjokroaminoto pergi mempropagandakanSarekat Islam, biasanya seorang atau dua diantara mereka ikut dibawa serta. Padakesempatan ini yang sering mendapat giliran adalah Ir. Soekarno dan adik beliausendiri yaitu Abikoesno Tjokrosoejoso[21]. Soekarno yang kelak menjadi PresidenRepublik Indonesia pertama bahkan pernah menjadi menantunya. Ia pernahmenikahi Siti Oetari, putri Tjokroaminoto, walaupun hanya dengan kawingantung.

Namun yang istimewa, murid-muridnya ini dalam perkembangannya justru saling berbeda dalam mengusung ideologi perjuangannya masing-masing.Soekarno menjadi seorang kampiun nasionalis, Alimin dan Moesso memilih komunis, dan Kartosoewirjo kelak menjadi pemimpin kaum fundamentalisIslam[22].

Soekarno menyerap kecerdasan Tjokroaminoto, terutama dari gayaberpidato. Pada masa kemerdekaan, Soekarno dikenal sebagai tokoh nasionalis,proklamator dan presiden R.I., Kartosuwiryo, juga pernah beberapa tahun tinggalbersama Tjokroaminoto. Setelah kemerdekaan, Kartosuwiro mendirikan DarulIslam sebagai perlawanan terhadap Soekarno. Musso-Alimin, dua tokoh PartaiKomunis Indonesia (PKI), juga merupakan murid beliau. Keduanya, Pada tahun1948 di Madiun, juga bertarung dengan Soekarno. Jadi pertarungan NasionalismeSukarno- Islam Kartosuwiryo-Komunis Musso/Alimin, adalah pertarungan antaramurid-murid Tjokro. Hal ini mengisyaratkan bahwa pemikiran Tjokroaminotodiinterpretasikan berbeda oleh para muridnya. Dalam beberapa hal, ide Tjokrolebih dimengerti Soekarno yang mengolahnya menjadi Nasakom, sebagailambang persatuan nasional[23].

Tjokroaminoto sendiri pernah terlibatkonflik dengan beberapa muridnya tersebut. Hal ini sejalan dengan semakindinamisnya dunia pergerakan waktu itu sehingga perbedaan pandangan amatmungkin terjadi. Beberapa muridnya melihat bahwa ide-ide beliau sudah tidak cukup relevan lagi dengan kondisi pada waktu itu. Hal ini berkaitan dengan’semangat zaman’ ditengah-tengah perjuangan nasional untuk merebutkemerdekaan (terlepas dari masih terbaginya wacana asosianis-penyatuan secarasejajar antara Belanda dengan Hindia yang berpemerintahan sendiri ataupemisahan secara tegas) banyak di antara tokoh-tokoh pergerakan yang tiba padakesimpulan kapitalisme-lah biang keladi terjadinya imperialisme, sehinggamereka mencari landasan ideologis yang sesuai dengan keyakinan perjuangannya masing-masing seperti Alimin dan Moesso yang menemukannya dalam komunisatau Soekarno yang hampir mirip dengan H. Misbach yang berusaha untuk mensitesiskan Islam dan komunisme[24].

Alimin-Moesso bersama Semaoen, Darsono, Misbach dan Mas Marcobersiteru dengan Tjokroaminoto yang disokong oleh Salim, Moeis, danSuryopranoto dalam kasus internal SI Semarang. Alimin-Moesso bersamakeempat rekannya tersebut yang mengkooptasi SI Semarang sehinggamenimbulkan perpecahan dan menciptakan faksi-faksi dalam tubuh SI, yaituantara SI Merah dan SI Putih. SI Merah inilah yang nantinya akan bertransformasimenjadi Partai Komunis Indonesia (selanjutnya disebut PKI). Mereka ber-enaminilah yang menjadi kader-kader awal dari Snevlieet, seorang sosialis radikal yangberasal dari Belanda. Ia-lah orang yang mendirikan ISDV, sebuah perkumpulanMarxis pertama di Hindia pada tahun 1914. Snevliet pula orang yangmenyebarkan ’virus’ sosialis dalam tubuh SI lewat doktrinasinya kepada Alimin-Moesso dkk. Ia dengan jeli melihat SI adalah organisasi rakyat yang memilikibasis massa yang demikian besar, oleh karena itu ia masuk dan menanamkanpengaruhnya dengan membangun blok komunis di tubuh SI[25].

Alimin dan Moesso tentu saja juga adalah ’murid’ Tjokrominoto. Sewaktudi Surabaya mereka pernah mondok di rumah Tjokroaminoto dan belajar banyak darinya. Mereka berdua adalah sahabat karib. Alimin sampai tahun 1918, meskitelah menjadi anggota ISDV tapi masih dianggap ’anak buahnya’ Tjokroaminoto.Namun saat terjadinya perpecahan dalam tubuh SI ia berpaling pada pihak komunis. Sementara Moesso adalah seorang individu yang keras dan

bertemperamen tinggi. Awal perkenalan dan interaksinya dengan orang-orangkomunis banyak dilakukan sewaktu ia dipenjara dengan tuduhan terlibat dalam SISeksi B. Walaupun demikian Moesso tidak serta merta pro komunis. Dalamkonflik Semaoen-Darsono dengan Agus Salim-Abdul Moeis, ia masih dianggappro Tjokroaminoto. Namun kemudian ia malah berpihak pada komunis dan padatahun 1920 bersama Alimin, Semaoen, Darsono, Marco, dan Misbach mendirikanPKI. Moesso-lah orang yang paling bertanggung jawab terhadap pemberontakanPKI 1926/1927 dan kemudian diulanginya pada tahun 1948 di Madiun terhadappemerintah resmi yang dipimpin Soekarno. Ia kemudian tewas pada peristiwatersebut[26].

Peran mereka paling besar dalam konflik antara PKI dengan SI pimpinanTjokroaminoto adalah dalam pergolakan masyarakat Banten. Mereka berhasilmemprovokasi masyarakat Banten dan terutama SI Banten untuk menggantikedudukan Tjokroaminoto pada tahun 1923. Hal ini dianggap sebagai dampak dari ketidakmampuan SI dalam mengakomodir tantangan radikalisme masyarakatBanten pada waktu itu. Radikalisme masyarakat Banten yang berujung padapemberontakan itu dengan lihai berhasil ditunggangi oleh PKI. Selain itu, Alimindan Moesso juga pernah mengusulkan untuk mengubah nama SI menjadi SarekatHindia[27].

Menghadapi Alimin-Moesso beserta kompatriotnya di PKI,Tjokroaminoto cenderung bersikap lebih toleran ketimbang dua rekannya yaituSalim dan Moeis yang lebih keras dalam menanggapi konflik ini apalagi sudahmenyangkut prinsip. Bahkan Tjokroaminoto yang sampai dituduh menggelapkan uang CSI malah membalasnya dengan kebaikan pada pihak komunis.

Untuk mengakhiri konflik ini, walau sebenarnya hanya bersifat sementara,Tjokroaminoto dan SI-nya sepakat dengan kubu PKI untuk menyusun deklarasiyang dapat mengakomodasi kedua konsep masing-masing pihak yang selama inibertentangan yaitu antara Islam dan komunisme. Deklarasi ini menyatakan bahwaSI di satu pihak ’mendasarkan diri pada prinsip Islam dan mengakui Islam’. Dilain pihak juga menyatakan bahwa ’SI percaya kejahatan dominasi nasional danekonomi itu semata akibat kapitalisme Maka rakyat di koloni ini harus dibebaskandari kejahatan dan berjuang melawan kapitalisme. Jika dibutuhkan dengan tenagadan kemampuan terutama oleh persatuan serikat buruh dan tani.[28]

Namun ternyata setelah itu tetap saja infiltrasi komunis ke tubuh SIsemakin kuat hingga mengalami perpecahan. Dan hal itu kemudian menyadarkanTjokroaminoto untuk kemudian memperkuat basis organisasi. Pada kongres CSIdi madiun, pasca dibebaskannya Tjokroaminoto dari penjara, diputuskan untuk selanjutnya meningkatkan kualitas organisasi ke tingkat partai. Pergantian namamenjadi partai dirasakan dapat menciptakan organisasi yang berdisiplin, yangmungkin nuansa tersebut tidak terdapat dalam kata ’Sarekat’. Lagipula iniditujukan untuk mempersiapkan diri dan merapatkan barisan dalam menghadapipemerintah dan PKI, yang dalam hal ini telah lebih dahulu menyebut dirinyapartai. Jadi, untuk mempertahankan kepeloporannya dalam dunia pergerakandiubahlah nama Sarekat Islam (SI) menjadi Partai Sarekat Islam (selanjutnyadisebut PSI)[29].

 PKI sendiri pada akhirnya mengalami kelumpuhan pasca kegagalanmereka dalam pemberontakan yang dilakukan sekitar tahun 1926-1927.Kegagalan tersebut disebabkan pemberontakan terjadi secara terpisah-pisah dantidak terorganisir. Akibat pemberontakan tersebut pemerintah memiliki alasanyang kuat guna mengambil tindakan tegas yaitu beberapa orang dihukum mati,sekitar 1300 orang ditahan, 4500 orang dipenjarakan dan 1300 orang lainnyadibuang ke Boven digul, Irian Jaya. Alimin dan Moesso sendiri melarikan diri keSingapura untuk kemudian menyelundup kembali dan menghidupkan kembali sel-sel PKI sekitar tahun 1935[30].

Selama masa kehancurannya PKI absen dalam dunia pergerakan nasional.Selama itu pulalah selain SI, timbul kekuatan baru dalam pergerakan nasional.Tidak lagi mengusung ideologi

Pan Islamisme dan komunisme sepertipendahulunya, tapi nasionalisme yang berusaha melingkupi itu semua. Kali iniyang muncul adalah Soekarno, murid Tjokroaminoto yang paling berbakat.Periode ini nampaknya menjadi periode Soekarno, ia mulai menggantikanTjokroaminoto dan PKI sebagai bintang pergerakan. Dan Tjokroaminoto tentusaja adalah bapak asuh, guru, mertua sekaligus ’lawan setanding’ dari tokohpendiri PNI (Partai Nasional Indonesia) tersebut[31].

Selama kurun waktu 1905 sampai 1926 adalah tahun-tahunberkembangnya pergerakan kebangsaan. Pada masa-masa ini pula bermunculanideologi-ideologi yang menjadi dasar bagi perkembangan organisasi-organisasipergerakan. Cita-cita Pan Islamisme yang dibawa oleh SI ternyata tidak begitukuat. Demikian pula dengan ide sosialisme jelas mengalami kemunduran dengan hancurnya PKI. Setelah itu muncullah nasionalisme yang berusah membedakandirinya dengan paham-paham yang didasarkan atas agama dan sosialisme. Pahamini didasarkan atas keinginannya untuk mencapai emansipasi politik dengankekuatan sendiri, mengkampanyekan persatuan Indonesia, memperjuangkankesadaran nasional serta berusaha melepaskan Hindia dari dominasi imperialismedan kapitalisme Belanda. Gerakan ini di Belanda tumbuh di  Indische Vereeniging (IV) yang merupakan pendahulu dari Perhimpunan Indonesia (PI) dan diIndonesia berkembang di Perserikatan kemudian Partai Nasional Indonesia(selanjutnya disebut PNI). Yang pertama dipimpin oleh Hatta dan yang keduatentu saja Soekarno[32].

PSI sendiri dengan arus kebangkitan ideologi nasionalisme revolusioneryang berpusat disekeliling Soekarno, awalnya memperlihatkan sikap kerja sama. Persatuan ke arah kerja sama antara kelompok Islam dan nasionalis telahditempuh Tjokroaminoto. Soekarno dan Tjokroaminoto mencapai kesepakatanuntuk menggagas front bersama yang membedakan ’kaum sana’ (penjajah)dengan ’kaum sini’

(terjajah). Yang kemudian direalisasikan dalam bentuk sebuah federasi yang dikerjakan oleh Soekiman Wirjosandjoyo. Setelah melewatibeberapa kali rapat diantara kedua pihak maka pada tanggal 17 Desemberdibentuklah Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik KebangsaanIndonesia (selanjutnya disebut PPPKI). Federasi ini menghimpun 7 organisasipolitik terkemuka baik dari kooperasi maupun non-kooperasi. Organisasi initerdiri dari PNI, PSI, Boedi Oetomo, Pasundan, Sarekat Sumatera, Kaum Betawi, Indonesische Studie Club, dan tiga organisasi bergabung kemudian yaitu Sarekat Madura, Perserikatan Brebes, dan Tirtajasa Banten[33].

Perkembangan selanjutnya mulai menunjukkan indikasi ketidakharmonisan diantara dua organisasi tersebut. Ditandai dengan kebangkitanideologi nasionalisme sekuler. Ernest Renant-lah yang menjadi sumber inspirasibagi kaum nasionalis ini. Jalan pikiran tokoh-tokoh nasionalis berangkat dari tesisRenant mengenai bangsa sebagai ’Le desire d’etre ensemble’  atau keinginanuntuk bersatu. Namun, Soekarno tidak berhenti sampai disitu. Ia mulaimengungkit-ungkit tentang bumi Indonesia yang dianalogikannya sebagai ’ibuIndonesia’. Ia mengajak memperhambakan dan membudakkan diri pada ’ibuIndonesia’ dan memberikan kesetiaan yang tertinggi kepadanya. PemikiranSoekarno ini mengoreksi pendapat-pendapat yang mengatakan nasionalisme bisadidasarkan atas kesukuan (kaum nasionalis Jawa) atau agama. Dalam hal iniSoekarno jelas memposisikan negara seharusnya dipisahkan dari agama agarnegara nasional dapat tercapai[34].

Golongan nasionalis terus menyerang PSI yang mengusung ideologiIslam. Mereka bahkan mulai mengkritisi tentang hal-hal yang menurut umat Islamadalah sesuatu yang sakral. Misalnya saja dalam hal poligami. Golongannasionalis memandang poligami sebagai bentuk merendahkan perempuan, tidak sesuai dengan zaman dan sudah usang. Dalam kongres Pemuda Indonesia keduapada 24-28 Desember 1928 di Jakarta, Soekarno berpidato tentang emansipasi dan peranan perempuan dalam perjuangan nasional. Ia mengatakan gerakan-gerakanfeminis di Asia jauh tertinggal dibandingkan di negeri-negeri Barat[35].

Golongan nasionalis semakin agresif dalam mengembangkan gagasannya.Soekarno semakin sering mengutip tokoh-tokoh pergerakan nasional di Asia danmulai mengembangkan watak nasionalismenya yang anti Barat. Ia menyindir Pan Islamisme-nya PSI yang dikesankannya mengharapkan dukungan dari luar.Soekarno berpendapat bahwa ide tersebut haruslah dilaksanakan dengankemandirian sendiri tanpa bantuan dari pihak manapun yang menentang tujuanIndonesia merdeka[36].

Sementara itu, imbas dari ketegangan ini juga merembet sampai PPPKI(Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia).Tjokroaminoto dan Salim dituduh ingin menguasai PPPKI dan disebut sebagai’pengkhianat’. Maka kalau sampai usaha mereka ini berhasil maka pergerakannasional yang sedang dibangun akan hancur[37].

Tjokroaminoto yang pada awalnya terlihat diam mulai bangkit danmenyerang balik kelompok nasionalis yang dimotori oleh muridnya, Soekarno. Iamenyadari kini PSI telah mundur dibandingkan masa-masa sebelumnya dansekarang poularitasnya sedang digantikan oleh PNI. Di rapat internal PSI,Tjokroaminoto menuduh di antara organisasi-organisasi lainnya, PNI-lahorganisasi yang paling berbahaya dan berusaha menghancurkan PSI. PNI telahberusaha menarik para anggotanya dan karena itu Tjokroaminoto meminta anggotanya tidak meninggalkan PSI, apalagi memasuki organisasi yang tidak berazaskan Islam[38].

Kemudian PSI demi untuk mengakomodir dan menjaga agar nasionalismedan cinta tanah air tidak hanya diidentikkan dengan kaum nasionalisme sekuler,pada Kongres Nasional yang ke XIV di Jakarta pada Januari 1929 memutuskanuntuk mengubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (selanjutnyadisebut PSII), walaupun warna Islamnya tetap dominan[39].

Kemudian di PPPKI, PSII mulai menunjukkan sikap tidak percayaterhadap kredibilitas federasi tersebut. Dalam Kongres Nasional XV diYogyakarta pada 24-27 Januari 1930, Soekiman yang merupakan penggagasPPPKI mengaku kecewa dengan federasi tersebut dan pemimpinnya dari golongannasionalis, karena itu ia meminta PSII untuk keluar saja dari PPPKI. Awalnyakeinginan Soekiman ini kontras dengan pendapat Tjokroaminoto yang berusahatetap meyakinkan kegunaan PPPKI tersebut. Namun, Tjokroaminoto yang melihatkinerja PPPKI semakin buruk ditambah permasalahan krusial yang sudah sejak lama yaitu Anggaran Dasar PPPKI yang menyatakan hanya menerima anggotayang berkebangsaan Indonesia saja dan tentu saja hal ini bertentangan denganazas PSII yang tidak hanya mendasarkan diri pada kebangsaan belaka tapipersaudaraan Islam tanpa dibatasi rasa kebangsaan. Maka pada akhirnya diambilkeputusan untuk mundur dari PPPKI oleh pimpinan PSII pada 28 Desember[40].

 Dianggap Sebagai Ratu Adil

Di puncak popularitasnya Tjokroaminoto sampai disebut sebagai ‘Heru-Tjokro’, simbol datangnya Ratu Adil dalam kepercayaan Jawa. Istilah ‘Heru-Tjokro’ ini sendiri berasal dari terminologi Ratu Adil yang digunakan olehPangeran Diponegoro dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herucakra KabirulMukminin Sayidin Panatagama Kalifatul Rasul Tanah Jawa atau lebih dikenaldengan sebutan ‘Herucakra’[41].

Ratu Adil ini dipercaya akan membawa Jawakeluar dari kesengsaraan dan melepaskannya dari penjajahan. Hal ini semakindiperkuat dengan adanya julukan yang disematkan pemerintah kolonial kepadanyayaitu ‘ de Ongekroonde van Java ’ atau Raja Jawa yang tidak bermahkota atautidak dinobatkan[42].

Dengan gelar yang disematkan seperti itu maka amat wajar jikamasyarakat memiliki ekspektasi yang begitu besar terhadap Tjokroaminoto. Iadiyakini memiliki kemampuan atau kelebihan yang tidak dimiliki manusialainnya. Atau dalam perspektif agama sering disebut dengan

karomah

. Maka halyang lumrah jika masyarakat memperlakukannya bak dewa. Bila ia berpidatorakyat akan mendengarkannya dan setelah selesai berebutan untuk menyalaminya,memegang pakaian bahkan sampai mencium kakinya. Ia memang seorangpembicara yang menarik dan bersemangat dengan suara baritonnya yang amatkhas. Kata-kata tentang kebenarannya tersebar dari mulut ke mulut. Ia munculatas nama Islam, dan Islam-lah yang menjanjikan seorang Imam Mahdi. Ia telahdatang dan telah diterima dengan nama Cokro. Di dalam dunia yang diterobos oleh mistik dan kepercayaan-kepercayaan, ini memang bukan suatu nama yangkebetulan. Kemasyhurannya terus bertambah. Malahan di kalangan intelektual,yang tidak percaya dengan hubungan-hubungan mistik ini, keberanian dankeahliannya berpidato membuatnya terkenal. Popularitasnya tumbuh bersamaandengan Sarekat Islam[43].

Dalam masyarakat yang kurang berpendidikan apalagi sedang ditimpakemelaratan, penjajahan dan kesusahan hidup lainnya, maka mitos akandatangnya Ratu Adil yang akan membebaskan rakyat dari penderitaan akantumbuh subur.

 Milenarisme atau paham mesianik  memang dikenal dimasyarakatmanapun didunia. Di Barat

Milenarisme seperti ini juga dikenal seperti yangdidalam Injil dan gerakan-gerakan Milenarisme di abad pertengahan. Di Indonesiapun demikian gerakan milenarisme ini menjelma dalam sejumlah gerakan protesdi pedesaan-pedesaan di Jawa. Di SI, gerakan milenarisme sebagaimana yangditeliti oleh Korver juga terdapat. Selalu ada saja orang yang diproyeksikansebagai Ratu Adil. Sebelumnya ada Pangeran Hangabehi, putra tertua Susuhunandari Keraton Kasunanan, yang menjadi pelindung SI pada masa awalpertumbuhannya. Dan kemudian tentu saja muncul nama Tjokroaminoto. Ia tipe‘pemimpin kharismatik’ dalam tafsiran Weberian, dan dalam kategori Feith,merupakan pemimpin tipe ‘solidarity maker ’ atau pencipta solidaritas paling awaldalam politik kontemporer Indonesia[44].

Gerakan milenarisme atau juga dikenal dengan gerakan mesianik adalahsuatu gerakan yang meyakini akan datangnya masyarakat baru secara keseluruhandibawah pimpinan seorang tokoh juru selamat yang akan menggantikan segala kekurangan masyarakat lama. Gerakan-gerakan itu timbul akibat kecenderunganuntuk menafsirkan bahwa gerakan tersebut adalah sarana-sarana kultural untuk menghilangkan kepedihan yang terjadi karena perubahan-perubahan sosial yangmerendahkan atau yang sangat membahayakan status dari kelompok bersangkutanyakni suatu perjuangan yang berkesinambungan dengan mendasarkanperjuangannya pada penghormatan religius terhadap figur  Messiah[45]

Jika ditelusuri lebih jauh, H.O.S Tjokroaminoto memang mempunyaihubungan mata rantai dengan gerakan mesianik

pasca-Diponegoro. Ia adalahcucu dari Kyai Bagus Kesan Besari, Ponorogo, yang merupakan ulamapendukung setia perjuangan Pangeran Diponegoro[46].

Menanggapi fenomena Ratu Adil tersebut, Tjokroaminoto yang berjiwabesar dan mempunyai tauhid yang tinggi tidak mempercayai hal tersebut apalagisampai memanfaatkan keyakinan rakyat untuk meningkatkan poularitasnya.Dalam pidatonya di Kongres Nasional Pertama Sentral Sarekat Islam di Bandungbeliau secara tegas menolak keyakinan rakyat bahwa dirinya adalah Ratu Adilseperti yang diramalkan oleh  Jangka Jayabaya[47]

Akhir Perjalanan Hidupnya

Sebagai pemimpin besar SI/PSII tak terasa Tjokroaminoto di tahun 1934telah berusia 52 tahun. Pada saat itu beliau sudah mulai sakit-sakitan. Walaupundemikian Tjokroaminoto sampai saat-saat terakhir hidupnya masih terus berjuangbersama SI, dan di kongres XX di Banjarnegara yang diadakan 20-26 Mei 1934 iamasih turut hadir dan inilah kongres SI terakhir yang dihadirinya setelah berjuang lebih dari 22 tahun lamanya di SI/PSII. Di kongres ini okroaminotomemberikan wasiat tertulis ’Program Wasiat  ’ yang merupakan suatu rencana’ Pedoman Umat Islam ’ dan disahkan oleh kongres. Sebelumnya oleh kongresXIX Batavia Maret 1933, ia diserahi tugas penting yang nampaknya hanyadipercayakan padanya untuk menyusun ’  Reglement Umum Bagi Umat Islam

’.Oleh Tjokroaminoto konsep ini diserahkan pada kaum PSII (Partai Sarikat IslamIndonesia) pada tanggal 4 Februari 1934 dan disahkan oleh kongres Banjarnegara1934.Kesehatan Tjokroaminoto sendiri sebenarnya telah menurun sejak kepulangannya dari Sulawesi akhir 1933, namun ia terus memaksakan diri untuk bekerja. Sesudah kongres Banjarnegara tersebut rekan-rekan separtainya terusmenasehatinya agar beristirahat dan mengurangi aktivitasnya, namun tidak jugadiindahkan oleh Tjokroaminoto. Tanggal 30 Agustus-2 September 1934 di Paresewaktu berlangsung konferensi wilayah PSII Jawa Timur, ia terlihat pucat danlemah. Tak lama kemudian anaknya, Anwar Tjokroaminoto yang selama initinggal di Jakarta mendapat kabar dari keluarga di Yogyakarta yang mengatakankondisi Tjokroaminoto mulai melemah. Ia mulai tidak bisa berjalan dan badannyamengalami kelumpuhan sebelah sehingga praktis ia hanya bisa terbaring di tempattidur. Akhirnya pada hari

Senin Kliwon, 10 Ramadhan 1353 H , atau tepatnya padatanggal 17 Desember 1934 H.O.S Tjokroaminoto menghembuskan nafasterakhirnya. Beliau dimakamkan di Kuntjen, Yogyakarta[48].

Sehubungan dengan meninggalnya Tjokroaminoto, para pimpinan PSIIpun berkumpul di Yogyakarta hari itu juga. Semisal Agoes Salim, Abikoesno, Kartosoewirjo, Wondoamiseno, Sangadji, dan lainnya. Kaum pergerakan yanglain pun menunjukkan duka cita yang mendalam atas wafatnya Tjokroaminoto.Dalam surat duka citanya Majelis Pertimbangan PPPKI tertanggal 17 Desemberatas nama rakyat Indonesia menyatakan turut berbelasungkawa atas wafatnyaTjokroaminoto. Sedangkan Hoesni Thamrin sebagai wakil resmi PPPKI, pada 21Desember datang berkunjung ke kantor PSII untuk menyatakan belasungkawa[49].

 Sementara Soekarno, mantan menantunya, menulis surat pada mantan istrinyayang juga anak pertama Tjokroaminoto untuk menyatakan duka citanya yangmendalam. Oetari mengaku terkejut menerima ucapan Soekarno ini dan tidak menyangka Soekarno akan menghubunginya[50].

Demikian pula pers memberiperhatian atas wafatnya Tjokroaminoto, ini bisa dibaca dalam pemberitaansejumlah surat kabar diantaranya ’Penindjauan’, ’Sinar Pasundan’, ’Sipatahunan’,’Pewarta Surabaja’, ’Matahari’, ’Het Indische Volk’, dan ’Politieke Tribune’.Bahkan Perhimpunan Indonesia Raja di Mesir memperoleh banyak ucapan dukadari umat Islam di Mesir[51].

Rakyat Indonesia jelas amat kehilangan salah satu putra terbaiknya. Makauntuk menghargai jasa-jasa dan sumbangsihnya kepada negara baik dalam bentuk tenaga, pikiran, bahkan harta benda yang tak dapat dihitung besarnya, berdasarkanS.K. Presiden RI. No.590/1961 Tjokroaminoto pun diangkat menjadi pahlawannasional[52].


[1] Amelz, HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya  Jilid I , Jakarta: Bulan bintang, 1952,hal.50

[2] Anhar Gonggong  , H.O.S Tjokroaminoto, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1985, hal.7

 [3] Ibid, hal. 8

 [4] Amelz, HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya Jilid I  op.cit, hal.48

[5] M. Masyhur Amin, H.O.S Tjokroaminoto, Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya ,Yogyakarta : Cokroaminoto Universty Press, 1995, hal.11-13

[6] Amelz, HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya  Jilid I , op.cit, hal.50-51

 [7] M. Masyhur Amin, H.O.S Tjokroaminoto, Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya, op.cit,hal.13-15

 [8] Amelz, HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya  Jilid I , op.cit, hal.57 48

 [9] M. Masyhur Amin, H.O.S Tjokroaminoto, Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya , op.cit,hal.19

 [10] Safrizal Rambe  , Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

, Jakarta:Yayasan Kebangkitan Insan Cendekia, 2008, hal.59-61

[11] Ibid, hal.76

 [12] Takashi Shiraisi,  Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 , Jakarta: Graffiti,1977, hal.73-74

 [13] Safrizal Rambe  , Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

, op.cit,hal.7

[14] Ibid, hal.79

 [15] Ahmad Mansur Suryanegara,  Api Sejarah , Bandung: Salamadani Pustaka Semesta, 2009,hal.395

 [16] Safrizal Rambe , Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942 op.cit,hal.80

 [17] Takashi Shiraisi,  Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 , op.cit, hal.102

 [18] Safrizal Rambe  , Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

, op.cit,hal.84

[19] Robert Van Niel,  Munculnya Elite Modern Indonesia , Jakarta: Pustaka Jaya, 2009, hal.212

[20] Ahmad Mansur Suryanegara,  Api Sejarah , op.cit, hal.408

 [21] Tashadi dkk   , Tokoh-Tokoh Pemikir Paham Kebangsaan , Jakarta: Depdikbud, 1993, hal.70

 [22] Safrizal Rambe, Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942 , op.cit,hal.75

 [23] Google,  H.O.S Tjokroaminoto , (Online), www.google.com,diakses 21 Mei 201

 [24] Safrizal Rambe,Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

, op.cit,hal.100

[25] Ibid, hal.102

 [26] Takashi Shiraisi,  Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926  , op.cit, hal.146

 [27] Safrizal Rambe, Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

, op.cit,hal.107

[28] Takashi Shiraisi,  Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 , op.cit, hal.313-314

 [29] Safrizal Rambe, Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

, op.cit,hal.155

[30] Robert Van Niel, Munculnya Elite Modern Indonesia , op.cit, hal.301

 [31] Safrizal Rambe, Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

op.cit,hal.188

[32] Ibid, hal.192

 [33] Ibid, hal.195-199

 [34] Ibid, hal.205-206

 [35] Ibid, hal.215

 [36] Hering,Soekarno Bapak Indonesia Merdeka , Jakarta: Hasta Mitra, 2003, hal.190

 [37] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996, hal.278

 [38] John Ingleson, Jalan Ke Pengasingan, Pergerakan Nasionalis Indonesia, Tahun 1927-1934

,Jakarta: LP3ES, 1983, hal.81

[39] Safrizal Rambe,Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

op.cit,hal.217

[40] John Ingleson, Jalan Ke Pengasingan, Pergerakan Nasionalis Indonesia, Tahun 1927-1934

,op.cit, hal.145-148

[41] Imron Arifin dan Agus Sunyoto,  Darul Arqam Gerakan Mesianik Melayu , Malang:Kalimasahada Press, 1996, hal.146

 [42] J.B. Soedarmanta,  Jejak-Jejak Pahlawan , Jakarta: Grasindo, 2007, hal.2

[43] Robert Van Niel, Munculnya Elite Modern Indonesia , op.cit, hal.158

[44] Safrizal Rambe,Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942,

loc.cit,hal.75

[45] Imron Arifin dan Agus Sunyoto,  Darul Arqam Gerakan Mesianik Melayu , op.cit, hal.140

 [46] Ibid, hal.148

 [47] Ahmad Mansur Suryanegara,  Api Sejarah , op.cit, hal.383

 [48] Safrizal Rambe,Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942

op.cit,hal.244

[49] Ibid, hal.247

 [50] Hering, Soekarno Bapak Indonesia Merdeka , op.cit, hal.269

 [51] Ibid, hal.152-162

 [52] Arya Ajisaka,  Mengenal Pahlawan Indonesia , Jakarta: Kawan Pustaka, 2008, hal.68

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: