PEMUDA MUSLIMIN INDONESIA

The Indonesian Muslims Youth Organization

Manhaj Bernegara dalam Haji

Posted by Heru Tjokro pada Januari 4, 2012

Sudah Terbit!!!

Buku yang diluncurkan untuk

  “Memperingati 100 Tahun Partai Syarikat Islam Indonesia”

(PSII : 1011 -2011)

    “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan-Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (Q.S, at-Taubah, 9: 29).

Iman, Hijrah dan Jihad dalam ayat di atas adalah Tiga Marhalah yang bisa berarti masa/periode, tahap, dan metode yang terdapat dalam Sirah Nabawi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam); yang menghantarkannya hingga sampai pada tahap membina dan mempertahankan Negara Madinah al-Munawwarah.

Tiga Marhalah (3M) tersebut juga dijumpai dalam sirah para Nabi dan Rasul-Allah sebelum Nabi Muhammad yang tampak dengan jelas dalam risalah Nabi Ibrahim (‘alaihis salam) sebagai Millah Ibrahim yang Hanif. Diantara rangkaian ibadah dalam Manasik Haji adalah berupa ‘napak-tilas’ perjalanan risalah Nabi Ibrahim sebagai jalan yang diridhai Allah dalam menempuh kehidupan dunia menuju akhirat. Buku ini menyingkap tiga marhalah itu sebagai metode bernegara dalam Islam yang terkandung dalam ibadah haji.

Dari kajian lebih lanjut, ditemukan benang merah yang menghubungkan 3M dalam proses perjalanan Islam bernegara di Indonesia, yang diwakili dan direpresentasikan oleh kehadiran serta kiprah tiga tokoh yang menjadi pelopor dalam setiap marhalahnya, yaitu: Haji Samanhudi, Haji Omar Said (HOS) Cokroaminoto, dan Sekarmaji Marijan (SM) Kartosuwiryo.

Apakah 3M tersebut dapat dijadikan sebagai metode bernegara, metode sejarah, metode berdakwah, dan metode analisa yang berkaitan dengan politik Islam atau Islam bernegara? Tema inilah yang menjadi inti kesimpulan dalam buku ini, untuk menjadi bahan kajian lebih lanjut sebagai bagian dari upaya menjalankan Syari’at Islam yang rahmatan lil ’alamin (rahmat bagi sekalian alam).

Pendahuluan buku Manhaj Bernegara dalam Haji

Pendahuluan

 Bismillahi, wal-hamdulillahi

Labbaika Allahumma labbaik.

 Labbaikala syarika labbaik.

Innal hamda wa ni’mata laka wal mulka.

La syarika laka.

Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah.

Aku memenuhi panggilan-Mu.

Tiada sekutu bagi-Mu.

Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milik-Mu

dan Kerajaan/Kekuasaan kepunyaan-Mu.

Tiada sekutu bagi-Mu

Setiap tahun di bulan Haji, kita menyaksikan jutaan manusia berbondong-bondong bertandang ke lembah gersang, tandus, dan kering kerontang untuk menetap beberapa waktu lamanya. Di sana mereka melakukan serangkaian ritual ibadah yang memerlukan daya tahan fisik dan mental yang cukup prima. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Meninggalkan pekerjaan dan keluarga di kampung halamannya.

Sulit dimengerti dengan ukuran akal manusia yang dho’if: kekuatan apa yang mampu menggerakkan mereka untuk datang dengan antusias serta khusyuk melaksanakan upacara keagamaan yang berat tersebut? Tidak sedikit dari jutaan jamaah itu yang datang dengan susah payah. Ada yang menabung sampai puluhan tahun untuk biaya perjalanannya.

Kekuatan yang menggerakkan mereka adalah gairah  keimanan dan keislaman untuk mengunjungi “Rumah Allah” (Baitullah) di lembah Makkah. Mereka adalah para tamu Allah yang memenuhi seruan-Nya untuk bertandang ke “Rumah-Nya” yang dibangun oleh manusia pilihan-Nya, Khalilullah (Kekasih Allah), Ibrahim ‘Alaihis Salam. Baitullah adalah symbol pusat arah Kiblat yang menyatukan ummat Islam di seluruh pelosok dunia ketika shalat, berserah diri dalam sujud menyembah Allah Pencipta dan Pemelihara alam semesta.

Gairah Muslimin untuk berhaji setiap tahun terus meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk bumi. Sampai sampai Makkah pun tak mampu lagi menampung luapan peminat yang ingin menjadi tamu Allah untuk berhaji. Aturan pun diberlakukan dengan pembatasan dalam bentuk kuota haji bagi setiap negara sesuai dengan jumlah penduduk Muslimnya[1]. Di beberapa negara, daftar antrian para peminat yang mau berhaji sampai harus menunggu antara 2 – 5 tahun.

Semua negara di dunia berusaha untuk menarik turis agar datang ke negaranya dengan aneka cara lewat promosi dan penyediaan sarana serta prasarana yang menelan dana besar. Hanya Arab Saudi satu satunya negara yang membatasi kuota “turis” yang mau masuk ke negaranya. Hal ini tak lain karena daya tarik haji yang luar biasa. Pesona Ka’bah yang cuma bangunan sederhana berbentuk kotak segi empat itu muncul berkat kekuatan do’a dari seorang tua di tengah padang tandus di masa silam pada sekian abad yang lalu.

Bukti Nyata Kemukjizatan Al-Quran

Dalam sejarah Arab sebelum Islam, Mekkah dikenal sebagai lembah yang “menakutkan dan berbahaya” bagi kafilah yang melintas di sana. Kata Makkah diambil dari kata Bakka yang artinya air mata. Suatu nama yang menggambarkan betapa menakutkan dan berbahayanya lembah padang pasir dan bebatuan tandus yang diapit perbukitan tersebut. Ke lembah tandus itulah Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa dan meninggalkan istrinya (Hajar) beserta anak bayi kesayangannya (Isma’il, ‘Alaihis Salam). Bayi yang kelahirannya dinanti Nabi Ibrahim dalam harap serta do’a, dan baru terkabul di saat usianya mulai senja[2].

Ketika perintah Allah datang untuk menempatkan istri dan anak tercintanya di dekat Ka’bah, beliau laksanakan dengan penuh ketaatan dan ketundukan pada Allah. Ketaatan yang disertai keyakinan akan pasti benar dan berkahnya perintah Allah bagi diri, keluarga, ummat dan bagi kehidupan semesta alam. Beliau meninggalkan istri dan bayi kesayangannya di lembah air mata itu dengan do’a yang diabadikan dalam al-Quran, surat Ibrahim ayat  35 – 40:

Ya Rabbi, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.

Ya Rabbi, sesungguhnya berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. Barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ya Rabba-na, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Rabba-na, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya  Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.

Doa Nabi Ibrahim pun terkabul. Baitullah dan Makkah menjadi pusat peribatan yang aman dan makmur dengan pesonanya yang luar biasa. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa fenomena haji ini adalah mukjizat (peristiwa luar biasa) yang membuktikan kebenaran Al-Quran yang merekam sejarah pendirian Baitullah. Dalam Al-Quran Allah  menegaskan bahwa kelak bangunan sederhana itu akan menjadi semacam medan magnit yang mampu menarik hati jutaan manusia untuk berduyun duyun mendatanginya:

“Dan serulah manusia untuk berhaji. Mereka datang kepadamu dengan berjalan dan berkendaraan unta yang telah kurus. Mereka datang dari setiap penjuru yang jauh” (Q.S. 22: 27).

Tanpa doa’ Nabi Ibrahim dan perkenan Allah, Makkah hanyalah lembah tandus yang menakutkan. Dan Ka’bah hanyalah seonggok bangunan segi empat yang teramat sederhana di tengah padang pasir gersang dan bebatuan. Bangunan buah tangan orang tua di usianya yang mulai senja bersama anak remajanya, Isma’il (‘Alaihis Salam). Bangunan tua tanpa ornamen dan sentuhan seni yang menawan seperti bangunan peninggalan kerajaan besar di masa silam.

Millah Ibrahim

Perjalanan Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di Makkah, di samping Baitullah, seakan menjadi titik awal dari suatu babakan baru bagi proses pembentukan salah satu pondasi Syari’ah (Dinul-Islam). Rangkaian perjalanan hidup dan

kerasulan Nabi Ibrahim menjadi contoh, pedoman dan acuan dalam Syariat Islam, yang dalam al-Quran disebut Millah Ibrahim. Jejak peristiwa sejarah keteguhan dan kesungguhan Nabi Ibrahim dalam menjalankan misi kerasulannya, diantaranya diabadikan dalam ibadah haji yang menjadi salah satu dari rukun Islam yang lima. Demikianlah, kita saksikan dalam ibadah tersebut ada ritual Thawaf, Sa’i, melempar Jumrah, Qurban dan lain lain, yang menjadi semacam napak tilas dari peristiwa sejarah penting dalam perjalanan hidup, Sirah Ibrahim ‘Alaihis Salam.

Inti dan esensi Dinul Islam dipraktikkan dengan sempurna oleh Nabi Ibrahim dalam kehidupan pribadinya, keluarganya, juga dalam mengemban risalah suci dari Allah untuk berdakwah dalam menegakkan syi’ar Islam dan membangun kehidupan ummat dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang Islami–yang beriman dan menjalankan ketentuan (syari’at) Islam secara kaffah/sempurna. Millah Ibrahim itulah yang diteruskan dan disempurnakan dalam ajaran Islam pada misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi terakhir, untuk diteruskan oleh setiap pribadi Muslim di masa sekarang hingga akhir zaman.

Pedoman Bernegara dalam Haji

Ibadah haji memang unik dan memiliki aneka dimensi. Dampaknya pun meliputi hampir seluruh aspek kehidupan manusia: spiritual, sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan politik. Aneka kupasan tentang haji telah banyak dihasilkan dalam bentuk buku, tulisan, ceramah dan multi media seperti film dan video. Sudut pandang dan bentuk analisa tentang haji pun sangat beragam dari aneka sudut dimensi kajian akademis, jurnalistik/liputan reportase, spiritual, agama, bahkan berupa pengalaman ruhani pribadi jamaah selama dan setelah melaksanakan ibadah haji.

Apa yang ingin penulis sajikan dalam buku ini adalah untuk menyingkap salah satu sisi hikmah (dari sekian banyak hikmah tak terhingga) yang terkandung dalam ibadah haji. Penulis akan mengungkap dimensi hikmah dari ibadah haji dalam hal metode (manhaj) bernegara dalam Islam. Hasil telaah dan kajian penulis ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan dan kesadaran serta acuan dalam menjalankan syari’at dan sosio-politik Islam.

Ada beberapa alasan kenapa penulis merasa perlu untuk mengkaji hikmah ibadah haji ini dalam konteks bernegara dalam Islam:

  1. Dari analisa sejarah, Sirah Nabawi, dan sumber utama ajaran Islam (al-Quran dan al-Hadits) penulis sampai pada kesimpulan bahwa hubungan Islam dan politik dalam berbangsa dan Negara adalah sebagai bagian dari kewajiban seorang Muslim dalam menjalankan Syari’at Islam secara total dan sempurna (kaffah)[3]
  2. Perjalanan Risalah Nabi Muhammad yang dikenal sebagai Sirah Nabawi sampai pada tahap pembentukan dan mempertahankan Negara Madinah al-Munawwarah (dengan bentuk pemerintahan, kepemimpinan, batas wilayah, beserta rakyat/penduduk Madinah dan aturan hukum Islam yang diberlakukan di sana). Sirah Nabawi ini adalah rujukan serta acuan utama yang wajib dipedomani oleh setiap Muslim dalam menjalankan perintah agama.
  3. Syari’at Islam (Dinul-Islam) yang dibawa Nabi Muhammad adalah kelanjutan dari Millah Ibrahim. Karena itu prinsip dan esensi dari Sirah Nabawi dalam hal bernegara pun sudah barang tentu terkandung dalam Millah Ibrahim yang dipedomani Nabi Muhammad sehingga mewujud dalam bentuk Negara Madinah al-Munawwarah.
  4. Ibadah haji adalah perintah Allah untuk diserukan oleh Nabi Ibrahim. Sebagian dari ritual haji adalah berupa rekontruksi atau simulasi dari sebagian perjalanan Risalah Nabi Ibrahim. Maka penulis berkesimpulan, tentunya di balik rangkaian ibadah haji itu  terkandung metode bernegara yang dapat kita jadikan pedoman dan rujukan dalam membangun masyarakat Islam.

Proses untuk sampai pada kesimpulan tersebut, diawali dari kajian penulis tentang Sirah Nabawi dalam merintis, mendirikan, dan membangun, serta mempertahankan Negara Madinah. Di sini penulis melihat ada tiga periode, tahapan, atau babak sejarah (penulis menyebutnya dengan Marhalah) yang dilaksanakan Nabi Muhummad; yaitu: Marhalah Iman, Marhalah Hijrah dan Marhalah Jihad. Ketiga Marhalah bernegara dalam Sirah Nabawi ini sesuai dan bertolak dari Firman Allah Azza wa Jalla dalam Al-Quran:

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan-Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.S. at-Taubah, 9:20).

Dari kajian Manhaj Bernegara dalam Sirah Nabi Muhammad itu, kemudian penulis telusuri ke bagian hulunya, menelisik jejak sejarah  perjalanan para Nabi pendahulu pembawa risalah Islam sebelum Nabi Muhammad. Bisa disimpulkan, risalah Islam yang dibawa sejak Nabi Adam bentuk formulanya terakumulasi dan terumuskan dalam risalah Nabi Ibrahim. Al-Quran menyebutnya dengan Millah Ibrahim yang menjadi cikal bakal esensi ajaran Islam dalam Risalah (misi suci kerasulan) Nabi Muhammad dan dijabarkan dalam Sirahnya. Dalam hal ini penulis juga mengkaji tiga Marhalah dalam risalah Nabi Musa ‘Alaihis Salam[4].

Alur Kajian Dalam buku ini, uraian mengenai Millah Ibrahim, riwayat singkat perjalanan hidup dan Risalah Nabi Ibrahim dipaparkan pada Bab I. Juga dikaji tentang Tauhid sebagai inti ajaran agama samawi (Islam), dan mengenai Risalah Nabi Ibrahim dalam Manasik-haji beserta kesatuan aspek Rububiyyah, Mulkiyah, dan Uluhiyyah Allah yang berkaitan erat dengan Ikrar Azali manusia sebelum dilahirkan ke dunia.

Hasil kajian penulis pada Bab I ini sampai pada kesimpulan bahwa tiga Marhalah itu (Iman, Hijrah, dan Jihad) terdapat dalam Sirah dan Millah Ibrahim dalam perjalanan risalahnya. Semuanya terhimpun dalam Manasik haji. Marhalah Iman dalam manasik haji adalah sejak keberangkatan jamah haji meninggalkan kampung halaman hingga ke Miqat; yang merupakan titik pemisah antara yang ‘lama’ dan dan yang ‘akan datang’. Hal ini dipertegas lagi dengan menukar pakaian harian biasa dengan ‘seragam’ uniform ihram. Marhalah Hijrah bermula dari hari tarwiyah menuju padang ‘Arafah, mabit di Muzdalifah. Sedangkan Marhalah Jihad dalam haji berlangsung di Mina dengan aktifitas melontar jumrah yang berkelanjutan dalam beberapa hari; dari pagi 10 Zulhijjah hingga petang 13 Zulhijjah.

Perjalanan tiga Marhalah ini juga dapat kita temukan dalam Sirah Nabi Musa (‘Alaihis Salam). Marhalah Iman Nabi Musa bermula dari “pertemuan” pertama beliau dengan Rabb-nya di lembah Thuwa’. Sejak itu beliau mengemban risalah Ilahi mengajak Bani Israel kembali kepada ajaran Tauhid, anutan dari nenek moyang mereka (Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub, ‘Alaihim as-Salam), sebagai satu-satunya prinsip dan cara yang dapat membebaskan diri mereka dari penjajahan dan penindasan  Firaun di tanah Mesir.

Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Firaun) dan katakanlah, “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabb kamu, maka lepaskanlah bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Rabb kamu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.” (Q.S. Thaha, 20:47).

Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa, “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israel), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli.” (Q.S. asy-Syu’ara, 26:52).

Marhalah Hijrah Nabi Musa bersamaan dengan perintah Allah Ta’ala keluar dari Mesir menuju ‘tanah yang dijanjikan’ di bumi Palestina sebagai wilayah Hijrah mereka (Darul-Hijrah, yaitu bagi Bani Israel). Marhalah Jihad kaum Nabi Musa sempat tertangguhkan selama 40 tahun lebih, akibat keengganan mereka mamatuhi perintah Jihad dari Allah Ta’ala dan Nabi mereka, Musa.

Mereka berkata, “Hai, Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabb-mu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Q.S al-Maidah, 5:24).

Allah berfirman, “(Jika demikian) maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Q.S. al-Maidah, 5:26).

Barulah di tangan generasi berikutnya–generasi yang siap dan sanggup menyahut seruan Jihad dengan penuh iman dan hijrah –mereka dapat meraih kurnia-Allah. Hal ini berlangsung pada masa kepemimpinan Yusa’ bin Nun. Dengan begitu, mereka berhak memperoleh janji kurnia Allah Ta’ala untuk mewarisi bekas kekuasaan Fira’un.

Dan Kami pusakai kepada kaum yang tertindas itu, negeri-negeri bahagian timur dan bahagian baratnya yang telah kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabb kamu yang baik (sebagai janjiuntuk Bani Israel disebabkan kesabaran mereka. Dan kami hancurkan apa yang telah dibuat Fira’un dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Q.S. al-A’raf, 7:137).

Demikianlah Marhalah Iman, Hijrah, dan Jihad yang dicatat al-Quran dalam Sirah Nabawi Musa beserta para pengikutnya.

Sirah Nabawi Muhammad dalam Bernegara

Kajan mengenai Sirah Nabawi dalam bernegara penulis ulas pada Bab II. Ulasannya meliputi kajian tentang pengertian dan fungsi Sirah Nabawi dan Manhaj Rasulullah dalam bernegara. Semuanya dibahas secara rinci di setiap marhalahnya dalam Sub-Bab tentang Marhalah Iman, Marhalah Hijrah, dan Marhalah Jihad. Dalam Bab ini juga penulis uraikan secara global tentang perkembangan lanjutan sejarah dari Negara Madinah Rasulullah ke masa Khilafah al-Islamiyah, yang kemudian  berakhir di Turki (1-1230H/1924M).

Kajian mengenai aspek kenegaraan dalam Islam dengan tiga marhalahnya tentu berkaitan langsung dengan para pelaku dan pelaksana untuk merealisasikan ajaran Islam dalam bernegara tersebut pada setiap marhalah. Untuk itu, dalam Bab III penulis menguraikan tentang hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dari ritual ibadah haji dalam kaitannya dengan akhlak yang harus dimiliki seorang Mujahid (orang yang berjihad). Dalam hal ini, akhlak dibagi menjadi dua. Pertama Al-Akhlaq al-Karimah; akhlak yang mulia seperti keberanian (syaja’ah), kedermawanan (karam), pemaafan (sakha’), lemah-lembut (hilm), kasih-sayang (mahabbah) dan sebagainya. Dan kedua, al-Akhlaq al-‘Azimah; akhlak yang agung sebagaimana pujian Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya, Muhammad:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti (khuluq) yang agung”. (Q.S. al-Qalam, 68:4). 

Akhlak ‘Azimah adalah ketaatan individu semata-mata hanya kepada Allah dan utusan-Nya tanpa terbelah bagi. Yaitu dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhkan segala apa yang dicegah serta dilarang-Nya, baik dalam keadaan senang maupun susah.

Meskipun begitu akhlaq ‘azimah dan akhlaq karimah bukanlah dua hal yang berbeda, apalagi berlainan atau bertentangan satu dengan lainnya. Keduanya merupakan kesatuan yang terjalin teguh dalam diri pribadi Muslim. Berakhlak ‘azimah akan menuntun seseorang untuk berprilaku mulia (karimah). Dan bagi mereka yang berakhlak karimah akan mudah untuk bertingkah-laku (beramal) yang agung (‘azimah). Sebagaimana sabda Rasulullah: ”khairukum fil-jahiliyyah, khairukum fil-Islam” (Orang yang baik di zaman jahiliyyah akan menjadi baik di masa Islam). Kata “khairukum” merujuk kepada orang yang berakhlaq karimah  (mulia) sebelum datangnya Islam, sudah pasti dia akan menjadi lebih baik dalam Islam, yaitu dengan berakhlaq ‘azimah.

Secara garis besar, ibadah haji itu berkaitan dengan waktu, tempat, jenis atau bentuk ibadah yang bersifat perbuatan, ucapan sampai ke niat dan cara bersikap serta berpakaian dalam konteks pribadi dan sosial/jama’ah. Banyak hal yang bisa dipetik dari ibadah haji ini untuk pembentukan pribadi Mujahidin, diantaranya berupa niat yang benar (karena Allah), ikhlas, disiplin, berani, sederhana, hemat, istiqamah, sabar, dan pantang menyerah.

Metode 3 M dan Sejarah Islam di Indonesia

Tiga marhalah yang telah penulis uraikan (Iman, Hijrah, dan Jihad) sebagai metode (manhaj) bernegara dalam Islam, untuk memudahkan penyebutan dan mengingatnya dapat disingkat dengan sebutan 3M. Selain sebagai metode dalam bernegara, metode 3M ini bisa berfungsi sebagai metode penulisan sejarah, juga untuk menganalisa serta menilai perjalanan ide dan proses Islam dalam bernegara. Secara global, diantara fungsi utama 3M ini adalah:

  1. Dapat digunakan sebagai “pisau pengrajin” untuk interpretasi (tafsir) dalam mendesain satu ukiran yang tahapannya mencontoh pada pola yang sama dengan perjalanan Nabi Muhammad SAW, Sirah Nabawi dan Nabi serta Rasul sebelum beliau.
  2. Dapat dijadikan sebagai “pisau bedah”, untuk alat analisa mengenai aktifitas keagamaan (Islam) sebagai alat ukur: apakah suatu gerakan Islam (harakah) masih pada jalan yang tepat (on the track) atau telah terjadi penyimpangan (distorsi). Misalnya, sebagai contoh, gerakan Tajdid (reformasi) Muslim di Asia-Barat awal abad ke-20 tujuan asalnya adalah untuk membebaskan pemerintahan Islam dari belenggu kekuasaan imperialis (penjajah) Barat dalam politik dan ekonomi. Kemudian menyimpang menjadi gerakan menuntut otonomi kebangsaan Arab, yang lepas dari al-Khilafah al-Islamiyah terakhir, Turki Usmaniyyah (Turky Ottoman).Dan jika diperlukan, metode
  3. Dapat juga digunakan sebagai “pisau kombat” untuk propaganda (dakwah)  menghadapi lawan politik dan ideologi.

Sebagai negara dengan penduduk yang beragama Islam (Muslim) terbesar di dunia, tentunya menarik untuk menganalisa
perjalanan  Islam dalam bernegara diIndonesia.

Seperti kita ketahui bahwa dalam perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara di Indonesia, diwarnai dengan berkembangnya ide Islam bernegara–yang dikenal dengan sebutan Darul Islam (DI)–hingga mewujud dalam bentuk Negara Islam Indonesia (NII)  di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo yang diproklamasikan 7 Agustus 1949 di Madinah-Indonesia, daerah Garut, Jawa Barat.  Oleh karena itu apa yang penulis paparkan dalam membahas masalah ini hanya berupa penulisan ulang dengan mengutip dari serpihan literatur berupa aneka penulisan dan kajian sejarah Islam di Indonesia yang telah begitu banyak dipublis dan beredar luas[5]. Penulis hanya mengutip sebagian kecil dari literatur tersebut. Tidak ada temuan baru dan signifikan dalam mengulas masalah ini.

Dalam penulisannya, penulis membuat semacam periodisasi dengan kehadiran tokoh utama dalam setiap marhalahnya. Metode penulisan sejarah dengan membuat katagorisasi dalam bentuk periodisasi telah umum dan biasa dilakukan. Kalaupun dianggap baru, adalah karena penulis melakukannya dengan menggunakan metode 3M yang dirumuskan dari Sirah Nabawi. Tentu saja hal ini memerlukan kajian lebih lanjut secara mendalam untuk menilainya  secara akademik. Kajian semacam inilah yang penulis harapkan, untuk memperkaya hazanah pengetahuan dan literatur sejarah Islam di Indonesia, khususnya dalam hal Islam bernegara.

Sejarah Islam bernegara untuk konteks Indonesia setidaknya bisa kita lihat dalam tiga episode, babakan atau kurun waktu, yaitu: pra-penjajahan, masa penjajajahan, dan pasca penjajajahan.  Islam bernegara di Indonesia pra-penjajahan adalah Islam yang memiliki sejarah Islam bernegara yang cukup lama; yaitu dalam bentuk kesultanan. Kita kenal kesultanan Samudera Pasai, Malaka, Aceh Darus-Salam, Demak, Mataram, Cirebon, Banten, Gowa, Ternate dan Tidore, dll-nya. Islam di masa penjajahan kolonial Kerajaan Protestan Belanda bisa kita lacak diantaranya dalam bentuk kiprah penjajah dalam ‘menjinakkan’ politik Pemerintahan Islam. Di kurun waktu ini kita menemukan beberapa peristiwa peperangan/pertempuran dalam upaya mengusir penjajah yang berlandaskan dan berbasis Islam, seperti Perang Aceh, Diponegoro, Imam Bonjol, Banten, Mataram  dan lain sebagainya.

Ulasan mengenai sejarah Islam bernegara di Indonesia, penulis batasi hanya dalam kurun waktu antara awal tahun 1900-an sampai 1962-an.  Kurun waktu ini biasa disebut masa Gerakan Islam Modern. Di masa ini,  konsep perjuangan Islam dalam bernegara telah mulai terbentuk dalam  organisasi yang berlandaskan Islam dan mempunyai strategi serta program yang jelas.

Berawal dari organisasi ekonomi-politik Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian bertranformasi dan tampil utuh menjadi organisasi politik, dengan gagasan untuk kemerdekaan dan kenegaraan, dengan nama Sarekat Islam (SI). Kedua oganisasi ini ber-ideologi Islam, dan menjadikannya sebagai dasar bagi negara yang merdeka. Di kurun waktu tersebut pun kita menemukan peristiwa terbentuknya Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh Sekarmaji Marijan (SM) Kartosuwiryo. Seorang tokoh pergerakan Islam, sebagai pelanjut dari ideologi Islam yang diusung oleh HOS Cokroaminoto dan Sarekat Islam. Apa dan bagaimana proses pembentukan NII ini, akan coba penulis uraikan dengan menggunakan Metode 3M.

Bermula dari pelopor pembangkit Iman (kepercayaan) yang hampir punah dari jiwa umat Islam yang terjajah sekian lama (lebih dari 3½ abad); Haji Samanhudi, penggagas organisasi Islam pertama, Sarekat Dagang Islam (SDI, 1905), dan kemudian berlanjut menjadi Sarekat Islam.

Kedua, Haji Omar Said (HOS) Cokroaminoto, organisator ulung yang menggariskan konsep strategi perjuangan Islam, untuk mencapai kemerdekaan umat Islam melalui politik non-koperasi (Hijrah) dan konseptor ide ad-Daulah al-Islamiyah (Negara Islam) yang dicapai melalui jalan menyusun kekuatan dan memiliki kekuasaan untuk mencapai kemerdekaan agama (Islam) dan bangsa dari penjajah (imperialis) kafir Kerajaan Protestan Belanda.

Ketiga, Sekarmaji Marijan (SM) Kartosuwiryo, yang mengobarkan semangat Jihad (perang) menghadapi penjajah kafir penjajah kolonial Kerajaan Protestan Belanda yang berusaha kembali menguasai Nusantara, Indonesia. Khususnya, Jawa bagian Barat (1947/48), tepatnya pada agresinya pertama dan kedua. Jihad juga dikobarkan untuk membela dan mempertahankan proklamasi Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia (7 Agustus 1949), yang merupakan perwujudan dari cita-cita umat Islam Bangsa Indonesia untuk menegakkan kalimatillah dalam upaya menuju mardhatillah

Secara garis besar, penulis melihat terdapat Tiga Marhalah dalam proses perjalanan Islam bernegara di Indonesia yang diwakili dan direpresentasikan oleh kemunculan dan kiprah ketiga tokoh tersebut. Tokoh-tokoh yang dari segi latar belakang keluarganya mewakili tiga golongan: Santri, Priyayi dan Abangan. Mereka dipertemukan dan berjalan seiring sejalan dalam keimanan dan keislaman yang teguh dan kukuh dalam rangka membebaskan umat Islam dari penindasan dan penjajahan. Mereka mengemban tugas suci untuk menegakkan negara-merdeka berdasarkan Islam (Mulkiyah-Allah) sebagai wadah perjuangan dan ibadah umat Islam Bangsa Indonesia.

Sejalan dengan alur pemikiran penulis yang dipaparkan di atas, dan sesuai dengan lingkup atau fokus pembahasannya,
buku ini diberi judul Manhaj Bernegara dalam haji, dengan sub-judul: Kajian Sirah Nabawi di Indonesia.

Melalui buku ini penulis ingin melakukan kajian sejarah terhadap inti ajaran Islam dari Sirah Nabawi mengenai Islam dalam bernegara. Dalam konteks Indonesia, dari penelusuran sejarah, kita akan temukan bahwa Islam di Nusantara tumbuh dan berkembang mulai pada masa permulaan tahun hijriyah, dan pernah mencapai kejayaan dengan berdirinya
negara-negara (kesultanan) Islam di berbagai wilayah kepulauan Nusantara. Kita akan menemukan bahwa di masa awal masuk ke Indonesia, Islam secara utuh (kaffah) dipahami sebagai konsep hidup baik individu maupun kolektif (negara)
dalam kerangka ideologi, politik, ekonomi, sosial dan sebagainya. Para da’i pembawa risalah itu mengikuti Sirah Nabawi dalam menjalankan syi’ar Islam, yaitu sampai pada terbentuknya Negara Islam. Dengan bernegara, maka Syari’at Islam pun dapat diterapkan secara kaffah (sempurna). Ini  merupakan gambaran Islam pra-penjajahan di Indonesia.

Kedatangan penjajah kafir Kerajaan Protestan Belanda sampai 350 tahun menindas Indonesia, serta menghancurkan atau mengkooptasi kesultanan Islam, ternyata tidak melenyapkan ide dan semangat Islam bernegara. Maka ketika organisasi Islam bermunculan di Indonesia di awal abad ke-20, dengan menjadikan Islam sebagai dasar serta asas
organisasi. Diantara tujuan organisasi yang mereka bentuk serta orientasi politik mereka adalah kemerdekaan dengan menggalang dan membentuk negara-merdeka berdasarkan ideologi Islam atau dalam ungkapan: untuk menjalankan Syari’ah Islam.

Wacana Islam sebagai dasar Negara terus berlanjut, sampai pada perdebatan di sidang-sidang konstituante (BPUPKI) pada 1945 ketika merumuskan dasar Negara. Pandangan para tokoh dari kalangan Muslim, Negara Indonesia Merdeka adalah berdasarkan Islam karena kemerdekaan merupakan perjuangan umat Islam Bangsa Indonesia, dan karena mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, maka perlu untuk menjalankan Syariat Islam[6].

Singkat kata, dalam buku ini penulis berusaha menggali sejarah mengenai metode bernegara dalam Islam di masa Rasulullah melalui Sirah Nabawi yang pernah dijalani beliau hingga terbentuknya Negara Madinah. Sirah Nabawi ini adalah sebagai bagian dan kelanjutan dari amanah Allah dalam Millah Ibrahim yang diabadikan dan diperagakan sebagai
sebuah simulasi dalam ibadah haji. Kemudian penulis melakukan kajian mengenai sejarah Islam di Indonesia dengan mengggunakan Metode 3M yang terdapat dalam Sirah Nabawi tersebut.

Akhirul Kalam

Alhamdulillah buku ini dapat penulis selesaikan, meskipun jauh dari sempurna dan rasa puas diri. Semua itu bisa terwujud semata-mata karena Hidayah dan Inayah Allah Swt. Karena itu segara puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi seraya memohon ampunan dan hidayah akan segala kekurangan dan kehilafan yang mungkin tanpa penulis sadari terdapat dalam penulisan buku ini dan dalam kiprah penulis sebagai hamba-Nya yang dhoif ketika menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Kajian penulis tentang Sirah Nabawi ini, adalah semata mata karena dorongan hati penulis untuk semaksimal mungkin dapat mencontoh dan meneladani Kangjeng Rasul dalam membawa risalah, sebagai amanat Ilahi untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Karena itu, Shalawat dalam Salam penulis panjatkan kepada junjunan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga ke akhir zaman. Ash-shalatu was-Salamu ‘Alaihim Ajma’in.

Harapan penulis, semoga kehadiran buku ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan keteguhan hati serta usaha yang sungguh sungguh untuk senantisa mengkaji dan menerapkan Sirah Nabawi dalam bernegara di masa sekarang dan mendatang. Diharapkan esok, di kemudian hari, akan lahir generasi al-Quran (Jilul-Quran) yang memahami sejarah bangsa dan jati dirinya sendiri. Bahwa apa yang telah dirintis oleh generasi pertama tak pernah berhenti dengan bertukarnya generasi.

Bahwa shalawat dan salam yang senantiasa dipanjatkan kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim beserta keluarganya (ummatnya) menunjukkan adanya suatu gerak-langkah yang sama dan sejalan serta berkelanjutan hingga ke hari kiamat.

Perlu digaris bawahi bahwa apa yang penulis bahas dalam buku ini tentang Manhaj Bernegara dalam bentuk Metode 3M (Tiga Marhalah: Iman, Hijrah dan Jihad), penulis sadari hanya sebagai hasil renungan penulis dalam menggali makna haji dan Sirah Nabawi serta sejarah Umat Islam Bangsa Indonesia dalam kaitannya dengan Metode Bernegara dalam Islam. Tentunya bukan merupakan sesuatu yang bersifat mutlak dan pasti (final). Terbuka peluang untuk dikritisi, dikembangkan dan diperbaiki segala kekurangan, ketidaksempurnan, dan kekeliruannya dimana perlu dengan harapan dan niat semata untuk mendapat Ridha Ilahi dalam kesempurnaan ‘amal.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga patut penulis sampaikan kepada semua pihak atas bantuan mereka hingga terwujudnya buku ini. Tanpa dorongan dan bantuan mereka, buku ini tidak akan terwujud. Nama mereka tidak mungkin dituliskan satu persatu karena banyaknya. Jasa mereka semoga Allah Ta’ala jadikan sebagai amal kebaikan bagi mereka di dunia dan di Hari-Hisab kelak di hadapan-Nya. Jaza humullahu ahsanal jaza. Amin.

Akhirul kalam, penulis berharap apa yang diusahakan ini menjadi amal baik di sisi Allah Ta’ala, dengan iringan do’a:

“Ya Rabbi, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabbi, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabbi, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q.S. al-Baqarah 2:286)

Mei 2011.

di boyong dari http://mediamadania.wordpress.com/

 

[1] Sekitar 4 juta jamaah haji dari seluruh dunia setiap musimnya, tumplek di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Organisasi Internasional negara-negara Islam (OKI) memberlakukan ketentuan kuota jamaah haji per negara dihitung berdasarkan 1/1000 jumlah penduduk Muslim (Setiap 1.000 penduduk Muslim, hanya 1 orang yang ”berhak” untuk berangkat haji).  Belum lagi Jamaah Umrah yang sepanjang tahun tak putus putusnya berthawaf di Ka’bah, terutama di bulan Ramadhan.

[2] Nabi Ibrahim mengungkapkan rasa syukurnya dengan ucapan: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Rabb-ku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (Q.S. Ibrahim: 39).

[3] Kajian mengenai politik Islam atau Islam bernegara telah banyak ditulis para ulama terkemuka yang terhimpun dalam apa yang disebut sebagai “Fiqh Siyasah”. Lahirnya kajian ulama dalam bentuk fiqh siyasah ini membuktikan bahwa memang dalam Islam ada ajaran dan konsep–serta dengan jelas terbentang dalam sejarah Islam–mengenai politik, kekuasaan, dan kenegaraan.

[4] Tiga Marhalah dalam Sirah Nabi dan Rasul  Allah lainnya (selain Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad yang penulis kaji dalam buku ini) adalah bahan kajian yang selanjutnya Penulis harapkan ada pembaca yang berminat untuk mengkajinya dengan lebih mendalam.

[5] Masyarakat dan Ilmuwan sampai sekarang tampaknya masih tertarik untuk mengkaji dan meneliti perkembangan DI atau NII. Seringkali DI dilihat sebagai sumber inspirasi atau legitimasi gerakan Islam radikal (teroris) di Indonesiadan Nusantara, misalnya Jamaah Islamiyah (JI) dan jaringannya. Juga ada yang melihatnya sebagai akar dari ajaran yang melahirkan gerakan ajaran sesat, berupa pencucian otak dari kelompok yang biasa disebut orang sebagai NII KW 9, dan disinyalir bermarkas di Pesantren Az-Zaitun

[6] Demikian juga perdebatan di parlemen pada tahun 1955, adalah pro kontra tentang dasar negara Islam dan bentuk negara yang mengalami jalan buntu (dead lock). Kemudian diputuskan melalui Dekrit Presiden RI yang menegaskan untuk kembali kepada Pancasila dan UUD 45.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: